OPINI: Cinta yang Tulus Untuk Alam

Oleh: Dwi Purnomo

Beberapa hari belakangan notifikasi hp saya dipenuhi dengan berita bermacam-macam, yang menarik dari berbagai berita itu, ialah berita terkait dengan penolakan tambang emas Tumpang Pitu desa Sumberagung kabupaten Banyuwangi. Setelah membaca berita tentang tambang emas dari berbagi sumber, saya menanyakan kes alah satu warga sekitar yang sejatinya juga menolak tambang. Kegelisahan dalam diri, takut ketika alamnya rusak karena tambang, terlebih lagi rencana perluasan tambang. Hal demikian membuat warga tersebut semakin resah. Dari apa yang saya pahami, rasanya bibir saya bergetar, hati saya merasakan keresahan hingga membuat saya terus berpikir, meskipun bukan warga desa Sumberagung tetapi masih dalam satu kecamatan dengan tempat tinggal saya.

Sebuah cinta yang tulus dari masyarakat desa Sumberagung, perjuangan warga berawal dari Gunung Tumpang Pitu yang dahulu berstatus hutan lindung diturunkan menjadi hutan produksi, demi kepentingan tambang. Penurunan status hutan merupakan usulan Bupati Banyuwangi kepada Menteri Kehutanan (dahulu dijabat, Zulkifli Hasan) tertuang melalui surat No.552/635/429/108/2012. Kemudian Bupati Banyuwangi menerbitkan IUP operasi produksi kepada PT Bumi Suksesindo (Jatam.org, 27/09/2016). PT Bumi Suksesindo (PT BSI) mengantongi IUP OP yang berlokasi di desa Sumberagung tepatnya gunung Tumpang Pitu Seluas 4.998 ha, kegiatan tambang emas di gunung Tumpang Pitu mendapatkan penolakan dari warga.

Alasan warga sangat jelas, jika melihat dari sejarah pada tahun 1994 pernah terjadi Tsunami di dusun Pancer desa Sumberagung. Gunung Tumpang Pitu lah yang menjadi pelindung warga dari bencana saat itu. Aktifitas tambang tentunya dapat merusak ekosistem yang ada di kawasan Gunung Tumpang Pitu dan sekitarnya dan muncul kekhawatiran warga jika terjadi bencana serupa maka tidak ada pelindung alami lagi.

Warga dusun Pancer yang berprofesi nelayan menjadikan gunung Tumpang Pitu sebagai penanda saat melaut. Terlebih lagi pada Agustus tahun 2016 silam, setelah beberapa hari kawasan Dusun Pancer desa Sumberagung diguyur hujan terjadi banjir lumpur yang meluas ke obyek wisata pantai pulau merah, hal itu akibat dari aktivitas pertambangan, hal demikian dapat merusak ekosistem di sekitar. Bencana banjir lumpur semakin membuat geram warga karena aktifitas tambang emas dapat merusak obyek wisata yang mengakibatkan kerugian. Rugi dari segi pendapatan obyek wisata karena sepinya pengunjung pantai pulau merah.

Sudah banyak yang dilakukan warga untuk menghentikan aktifitas tambang, dari menuntut ke Bupati Banyuwangi yang tiada hasil. Tak hanya sekali atau dua kali melakukan aksi di depan kantor Bupati Banyuwangi bahkan lebih. Mendirikan baliho menolak tambang di beberapa titik daerah, menyuarakan menolak tambang dari tulisan hingga media massa. Muncul dalam benak saya, saat warga dusun Pancer aksi menolak tambang emas di depan Kantor Bupati, kemana  pak Bupati yang dulu saat kampanye sangat humanis kepada warga? atau pak Bupati Banyuwangi dan Pemda sedang sibuk menyiapkan event dan sibuk menyewakan pulau Tabuhan? sehingga acuh dengan kerusakan alam dan kerugian akibat tambang emas.

Belum selesai penolakan kepada PT. BSI karena aktifitas tambang emas Tumpang Pitu, muncul PT Damai Suksesindo (PT DSI) yang mengantongi IUP Eksplorasi untuk melakukan kegiatan eksplorasi di kawasan gunung Salakan dan sekitarnya Seluas 6.623,45 ha (Walhijatim.or.id,10/2018). Jika hal itu terus dibiarkan maka aktitifitas penambangan semakin meluas. Sehingga akan berdampak pada ketidakseimbangan ekosistem, bahkan bisa mengakibatkan bencana dan kekurangan air yang nantinya berdampak pada petani.  

Hal ini tentunya membuat warga menolak keras hingga rela membuat tenda di sekitar gunung Salakan. Pendirian tenda merupakan sikap penolakan warga terkait kedatangan brimob dan Tim perusahaan PT. BSI yang akan melakukan aktifitas yang berhubungan dengan pertambangan. Sungguh perjuangan yang sangat panjang bagi warga, akan tetapi semangat mereka tak akan pernah padam. Masih segar dalam ingatan saya, ketika liburan di akhir tahun 2019, saya sengaja berkunjung ke pantai Pulau Merah dan kemudian melihat perjuangan warga yang tinggal di tenda yang telah didirikan. Tenda-tenda yang didirikan sudah lebih dari 2 bulan, pendirian tenda merupakan bentuk perjuangan warga.

Perjuangan berlanjut dengan mengayuh sepeda menempuh jarak 310 Km menuju Surabaya untuk bertemu Gubernur Jawa Timur, perjuangan yang sangat mulia. Tuntutan mereka agar Gubernur Jawa Timur mencabut izin tambang PT. BSI dan PT. DSI di gunung Tumpang Pitu dan gunung Salakan. Warga yang ditemani mahasiswa dan Forbanyuwangi, memilki semangat juang hingga rela lelah berhari-hari di jalan, rela kedinginan karena hujan dan angin jalanan, rela meninggalkan aktifitasnya, bahkan ada yang membawa anak-anak untuk ikut berjuang. Para warga yang ditemani mahasiswa dan ForBanyuwangi terus menyuarakan keadilan, merapatkan barisan, memperkuat simpul-simpul perlawanan demi memperjuangkan keadilan. Bapak-bapak dan ibu-ibu dusun Pancer  desa Sumberagung membawa harapan yang mulia demi menyampikan tuntutannya, agar kawasan yang telah rusak kembali pulih, demi menjamin kehidupan yang berbasis kelestarian alam dan alam agar tidak beresiko bencana.

Perjuangan warga dusun Pancer mengayuh sepeda menuju Surabaya (Foto: ForBanyuwangi)

Gerakan warga dusun Pancer dan ForBanyuwangi adalah tamparan keras bagi pemerintah yang mengutamakan pembangunan dengan menciderai kemanusiaan dan kedaulatan lingkungan, kita tak bisa hanya menonton perjuangan warga terhadap kesewenang-wenangan aparatur negara, saatnya membangun konsolidasi pemuda untuk Banyuwangi yang lebih baik. Solidaritas harus dikabarkan, perjuangan harus digelorakan, panjang umur perjuangan!

Penulis :

Dwi Purnomo
Mahasiswa

Opini ini, isi keseluruhan adalah tanggungjawab pengirim

Recommended For You

About the Author: Banyuwangi News

Tinggalkan komentar